Selasa, 04 November 2025

Forkopimda dan Polda Jatim Gelar Apel Kesiapsiagaan Hadapi Potensi Bencana Akibat Cuaca Ekstrem


SURABAYA, Dialektika.my.id – Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Jawa Timur bersama Polda Jatim menggelar Apel Kesiapsiagaan Tanggap Darurat Bencana di Lapangan Apel Mapolda Jatim, Rabu (5/11/2025).


Kegiatan ini melibatkan unsur TNI, Polri, BPBD, Basarnas, serta berbagai instansi pemerintah daerah sebagai upaya memperkuat kesiapsiagaan menghadapi potensi bencana di wilayah Jawa Timur.


Kapolda Jawa Timur, Irjen Pol Nanang Avianto, menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan bentuk kesiapan terpadu seluruh unsur dalam menghadapi dinamika cuaca ekstrem dan potensi meningkatnya bencana hidrometeorologi di daerah.


> “Apel kesiapan tanggap darurat bencana di Jawa Timur yang juga dilakukan serentak di seluruh Indonesia ini untuk mengecek kembali kesiapan personel dan peralatan yang kita miliki agar benar-benar siap membantu masyarakat yang terdampak bencana,” ujar Kapolda Jatim.




Menurut Irjen Nanang, sekitar 1.400 personel gabungan dikerahkan dalam apel tersebut, sementara di jajaran Polres dan Polresta se-Jawa Timur terdapat kurang lebih 6.000 personel yang juga mengikuti kegiatan serupa secara serentak.


> “Kami berkolaborasi dengan Pemda, TNI, BNPB, dan semua stakeholder terkait, termasuk masyarakat," ujar Irjen Pol Nanang.




Ia berharap kesiapan ini dapat mempercepat respons dalam menghadapi bencana alam di wilayah Jatim.


> "Diharapkan penanganan bencana dapat dilakukan secara cepat, tepat, dan terpadu demi keselamatan dan ketahanan masyarakat Jawa Timur, karena ini menyangkut pertolongan terhadap jiwa,” tegasnya.




Dalam kegiatan tersebut, Kapolda Jatim juga membacakan amanat Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo, yang menekankan pentingnya sinergi nasional dalam menghadapi ancaman bencana akibat perubahan iklim global yang semakin kompleks.


Berdasarkan data BNPB per 19 Oktober 2025, tercatat 2.606 kejadian bencana di seluruh Indonesia, meliputi 1.289 banjir, 544 cuaca ekstrem, 511 kebakaran hutan dan lahan, 189 tanah longsor, 22 gempa bumi, serta 4 erupsi gunung berapi. Akibatnya, 361 orang meninggal dunia, 37 orang dinyatakan hilang, dan lebih dari 5,2 juta warga harus mengungsi.


Dalam amanatnya, juga disebutkan bahwa Indonesia menempati peringkat ketiga negara dengan risiko bencana tertinggi di dunia berdasarkan World Risk Index 2025, sehingga kecepatan dan ketepatan dalam merespons bencana menjadi faktor kunci keberhasilan penanganan.


Kapolda Jatim menegaskan terdapat delapan poin penekanan penting bagi seluruh personel di lapangan, yakni:


1. Melakukan deteksi dini dan pemetaan wilayah rawan bencana bersama BMKG dan instansi terkait.



2. Menyampaikan imbauan kamtibmas mengenai potensi ancaman bencana.



3. Menyiapkan personel, sarana, prasarana, dan logistik yang siap digunakan sewaktu-waktu.



4. Menggelar simulasi tanggap darurat secara berkala untuk edukasi masyarakat.



5. Mengutamakan kecepatan dan ketepatan dalam evakuasi serta penyaluran bantuan.



6. Menjalankan tugas kemanusiaan dengan empati, humanis, dan profesional.



7. Melaksanakan prosedur penanggulangan bencana dengan evaluasi berkelanjutan.



8. Meningkatkan koordinasi lintas sektor dengan TNI, BNPB, Basarnas, PMI, BMKG, pemerintah daerah, dan relawan.




> “Kita diberi amanah untuk melindungi rakyat dari segala bahaya, termasuk bencana. Negara harus selalu hadir memberikan perlindungan dan pertolongan kepada masyarakat,” tegas Kapolda Jatim.




Apel gelar pasukan ini menjadi momen penting bagi Jawa Timur dalam memperkuat kesiapsiagaan menghadapi potensi bencana hidrometeorologi, terutama menjelang puncak musim hujan pada November 2025 hingga Januari 2026.



---

Sumber: Humas

Editor: Redaksi Dialektika.my.id

Share:

0 comments:

Posting Komentar