Minggu, 12 Oktober 2025

Tim DVI Polda Jatim Identifikasi Total 53 Korban Tragedi Ponpes Al-Khoziny Sidoarjo

SURABAYA, Responnews.net – Tim Disaster Victim Identification (DVI) Polda Jawa Timur kembali mencatat progres dalam proses identifikasi korban peristiwa runtuhnya bangunan di Pondok Pesantren Al-Khoziny, Sidoarjo.


Pada Minggu (12/10/2025), dua jenazah tambahan berhasil dikenali melalui kombinasi uji DNA, pemeriksaan medis, dan analisis properti pribadi.


Kabiddokkes Polda Jatim, Kombes Pol Dr. dr. M. Kusnan Marzuki, menyampaikan bahwa identifikasi dilakukan terhadap dua kantong jenazah berikut:


1. Post Mortem RSB B-025: Dinyatakan cocok dengan Ante Mortem 003 atas nama Ach. Haikal Fadil Alfatih, laki-laki (12), warga Dusun Timur Leke, Sendang Dajah, Labang, Bangkalan. Identifikasi didasarkan pada uji DNA dan pemeriksaan medis.



2. Post Mortem RSB B-047: Teridentifikasi sebagai Syamsul Arifin, laki-laki (18), warga Dusun Badang, Tlagah, Galis, Bangkalan. Proses pencocokan dilakukan melalui DNA, medis, serta barang milik pribadi korban.




Dengan penambahan dua korban ini, total 53 jenazah telah berhasil diidentifikasi dari 67 kantong jenazah yang diterima tim DVI hingga saat ini.


Tercatat sebanyak 63 laporan orang hilang telah diterima. Dari jumlah tersebut, 10 korban masih dalam pencarian, sementara 11 kantong jenazah lainnya masih menjalani proses identifikasi di Posko DVI RS Bhayangkara Surabaya.


Kombes Pol Kusnan menegaskan bahwa seluruh sampel DNA dari sisa jenazah telah dikirim ke laboratorium di Jakarta untuk analisis lebih lanjut.


> “Dari 11 kantong jenazah ini masih dalam proses identifikasi. Harapan kami, hasilnya tidak lama lagi bisa keluar. Memang karena faktor alamiah prosesnya membutuhkan waktu lebih panjang dibanding hari-hari pertama, kedua dan ketiga,” jelasnya.




Ia juga menyampaikan bahwa tim DVI Polda Jatim terus mempercepat proses identifikasi agar keluarga korban segera mendapatkan kejelasan.


> “Harapan kami, segera semua teridentifikasi sehingga keluarga korban bisa mengetahui siapa anggota keluarganya,” pungkasnya.




Sementara itu, Kabid DVI Pusdokkes Polri, Kombes Pol Wahyu Hidayati, mengungkapkan bahwa proses identifikasi body part (bagian tubuh) menghadapi hambatan besar karena kondisi korban yang tidak utuh serta minimnya ciri khas fisik yang bisa dikenali secara langsung.


> “Kesulitannya mengidentifikasi body part itu karena posisinya tidak lengkap dan tidak ada tanda-tanda khusus pada bagian tubuh yang ada. Sehingga kami hanya bisa bergantung pada pemeriksaan DNA,” ujarnya.




Ia menambahkan bahwa pencocokan bagian tubuh dengan tubuh utama memerlukan kehati-hatian tinggi dan proses yang tidak instan.


> “Seperti sebelumnya, ada body part yang baru bisa teridentifikasi dua hari lebih lambat dari tubuh utamanya. Nah, kondisi seperti ini juga kami temui saat ini, dan masih menunggu hasil pemeriksaan DNA di laboratorium,” tuturnya.




Proses identifikasi masih terus berlangsung secara menyeluruh oleh tim gabungan dari RS Bhayangkara Polda Jatim, Pusdokkes Polri, Perhimpunan Dokter Forensik Indonesia (PDFI), serta berbagai lembaga pendukung lainnya, dengan tetap mengedepankan akurasi ilmiah dan empati bagi keluarga korban.


Sumber: Humas

Editor: Budi


Share:

0 comments:

Posting Komentar